Seorang dari tiga santri sebuah taman pendidikan Al Quran di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, tewas akibat tertimpa tembok saat belajar di sebuah rumah warga yang dijadikan tempat mengaji.
Bagian Hubungan Masyarakat Rumah Sakit Mardi Waluyo Kota Blitar, Rita, Kamis, mengemukakan ada seorang korban yang dirawat intensif di rumah sakit akibat luka tertimpa tembok yakni Moh Ganim (6) asal Desa Wonorejo, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar.
"Ia dibawa ke rumah sakit dan langsung dimasukkan ke dalam ruang ICU, karena kondisinya yang kritis," kata Rita.
Ia menyebut, pasien mengalami luka yang cukup serius di bagian kepalanya. Ia mendapatkan perawatan intensif dari dokter yang menanganinya.
Pihaknya menyebut, kondisi pasien setelah dibawa ke rumah sakit pada Rabu (30/1) malam sudah berangsur membaik dan sudah melewati masa kritis, bahkan ia sudah dipindah ke ruang perawatan di Ruang Bugenvil.
"Kondisi pasien relatif stabil saat ini. Namun, masih mendapatkan observasi yang ketat dari dokter," jelasnya.
Musibah tembok ambruk itu menimpa tiga anak, yaitu Moh Ganim (6), Dafa (5), dan Bagus (7) pada Rabu (30/1).
Mereka mengaji kitab suci Al Quran di rumah Sajudi (58) yang rumahnya satu desa dengan rumah Ganim, Desa Wonorejo, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar.
Saat itu, ketiga bocah itu menunggu di dalam ruangan. Secara tiba-tiba, tembok yang terbuat dari batako setinggi dua meter itu roboh dan menimpa ketiganya.
Dafa diketahui langsung meninggal di lokasi kejadian, sementara Ganim dan temannya Bagus mengalami luka-luka.
Bibi Ganim, Idayati mengatakan keluarga sangat khawatir, karena setelah kejadian tubuhnya tertimpa tembok batako itu ternyata kondisinya turun.
"Keluarga membawanya ke rumah sakit, kami khawatir akan lukanya dan berharap ia sembuh," kata Idayati.
Keluarga mengaku sudah lega saat ini, karena Ganim sudah keluar dari ruang ICU dan sudah dipindah di ruang perawatan umum.
Sementara itu, suasana duka masih menyelimuti keluarga Dafa. Orangtuanya, yaitu Iwan Suryanto (30) dan ibunya Ahlul Aini (30) masih bersedih. Mereka kehilangan anak pertama mereka.
Ayah Dafa, Iwan mengatakan sebelum ada musibah itu tidak ada firasat apapun. Seperti hari umumnya, saat akan berangkat sekolah ia meminta uang jajan dan diberi Rp2.000.
"Hanya saja saat akan berangkat sekolah, ia mengenakan baju sendiri dan mandi sendiri, padahal biasanya, ia (Dafa) dimandikan," katanya menahan air mata.
Walaupun sedih dengan musibah itu, Iwan mengatakan berusaha untuk ikhlas. Ia berharap, anaknya tenang.
Kondisi rumah yang digunakan k mengaji saat ini sepi. Kegiatan untuk sementara diliburkan sampai diputuskan untuk dibuka kembali. Sejumlah sisa tembok yang ambruk juga sudah dibersihkan. (ant/rd)
No comments:
Post a Comment