Ketua Komisi I DPRD Sulawesi Tengah Yahya R Kini mengatakan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian kian merosot akibat sejumlah peristiwa kekerasan terhadap warga yang dilakukan oknum anggota Polri.
"Saya kira masyarakat semakin tidak percaya kepada polisi, suatu saat masyarakat ini mau minta perlindungan kepada siapa," kata Yahya di Palu, Senin, menanggapi jatuhnya korban tertembak dan pemukulan warga oleh oknum polisi di Banggai, Minggu.
Yahya mengatakan bahwa polisi sebagai pengayom masyarakat mestinya memberikan contoh yang baik kepada masyarakat.
Dia mengatakan bahwa jika polisi tidak lagi bisa memberikan pengayoman, masyarakat akan bingung dalam mencari perlindungan.
"Contoh saja, disuruh jalan pelan-pelan, kenapa justru oknum polisi memukul orang. Ini karena arogansi, karena ada kekuasan kepada mereka," katanya.
Dia mengatakan untuk sementara dirinya mendapat dua versi cerita tentang peristiwa di Banggai yang berakhir pada pencopotan Kapolres Banggai AKBP Jossy Kusumo tersebut.
Yahya mengatakan versi pertama warga yang memukul Kapolres. Versi kedua, Kapolres yang memukul warga yang bekerja di jalan raya karena meminta kendaraan Kapolres berjalan pelan-pelan karena sedang ada perbaikan jalan.
"Mana yang betul kita belum tahu persis, tetapi terlepas dari itu hendaknya polisi berhati-hati. Walaupun masyarakat, misalnya, yang memulai tetapi itu mungkin dipicu oleh prilaku oknum polisi," kata Yahya.
Dia mengatakan dari kasus tersebut menunjukkan polisi tidak pernah berubah, polisi tetap arogan karena ada kekuasaan yang melekat dalam diri mereka.
Politisi Partai Amanat Nasional itu mengatakan polisi sebagai pengayom, bagaimanapun emosi masyarakat polisi mestinya tidak bisa emosi, kecuali polisi sudah dipukul dan sudah mengancam dirinya.
"Menghadapi masyarakat ini kan begitu. Menghadapi berbagai macam karakter. Makanya dibutuhkan profesionalisme Polri," katanya.
Dia mengatakan profesionalisme polisi sudah tahu saat mana dia bertindak dan saat kapan dia melakukan tindakan.
"Kalau dalam keadaan tidak berbahaya kenapa mesti dipukul. Kecuali itu masyarakat sudah ambil parang, dan sudah berbahaya itu polisi perlu membela diri. Ini kan hanya disuruh pelan-pelan eh terus turun memukul warga," katanya.
Sebagai pimpinan Komisi II yang membidangi masalah keamanan, pemerintahan dan hak-hak asasi manusia, dirinya memberikan apresiasi kepada Kapolda Sulawesi Tengah Dewa Parsana karena sudah mengambil gerakan cepat untuk mencegah meluasnya bentrok antarwarga dengan polisi di Banggai.
"Walaupun orang lain minta Kapolda dipindahkan tapi saya beri apresiasi karena sudah mengambil langkah cepat dengan membawa pejabat tinggi Polri ke Banggai berdialog dengan masyarakat," katanya.
Kapolres Banggai Jossy Kusumo dicopot oleh Kabaharkam Mabes Polri Komjen Pol Oegroesono, Minggu.
Terhitung sejak Senin Jossy tidak lagi diberi kewenangan dalam kepemimpinan Polres Banggai dan Kapolda Sulawesi Tengah diminta segera menunjuk pelaksana tugas harian.
Jossy dicopot karena diduga melakukan tindak kekerasan kepada warga bernama Solihin Noho, sehingga memicu kemarahan warga hingga mengakibatkan aksi bentrok.
Dalam peristiwa tersebut satu warga terkena tembak. Andi Irma, tertembak di punggung tembus di bagian dana.(ant/rd)
No comments:
Post a Comment