Tuesday, 26 February 2013

Anggota DPRD: Kurang Sosialiasi Golput Pilgub Tinggi

Anggota Komisi A DPRD Jawa Barat Deden Darmansyah menuturkan golput di Pilgub Jabar 2013 (versi LSI sekitar 35 persen) menunjukkan kurang efektifnya sosialiasi yang dilakukan oleh KPU provinsi ataupun kabupaten/kota ke masyarakat.

"Menurut saya ini, ini karena kurang gencarnya sosialiasi Pilgub Jabar. Setahu saya golput di Pilgub Jabar 2008 itu hanya sekitar 28 persen," kata Deden Darmansyah ketika dihubungi melalui telepon, Senin.

Ke depannya, kata Deden, untuk mengurangi jumlah golput di pemilihan kepala daerah, anggaran untuk menyosialisasikan bukan hanya diposting untuk KPU tingkat provinsi atau kabupaten/kota.

"Tapi harus dipertimbangan bahwa kucuran anggaran harus juga ada di panitia pemungutan suara (PPS) di tingkat desa karena mereka itu adalah ujung tombak penyelengara pilgub dari sisi non teknis. PPS itu minimal bisa mensosialisasikna ke tingkat RT dan RW," kata politisi Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jabar.

Dikatakannya, sosialiasi Pilgub Jabar juga menjadi peran setiap pasangan calon gubernur dan wakil gubernur.

"Berdasarkan amanat undang-undang tentang pemilu itu harus dipahami betul oleh parpol bahwa sosialisasi itu tidak hanya tugas pokoknya KPU semata tapi peserta Pilkada juga," kata dia.

Dengan melihat angka golput yang mencapai sekitar 35 persen, ia menilai pelaksanaan Pilgub Jabar 2013 tidak jauh lebih baik dibandingkan dengan Pilgub Jabar 2008.

"Ya lebih baik di Pilgub Jabar 2008 kalau begini," kata dia.

Berdasarkan hasil hitung cepat dari Indo Barometer angka partisipasi pemilih yang menggunakan haknya di Pilgub Jabar sebesar 62,24 persen, sementara suara calon pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya sebesar 35,7 persen.

Sementara itu, berdasarkan hasil hitung cepat Lembaga Survei Indonesia (LSI) tingkat partisipasi pemilih dalam Pilgub Jabar adalah sekitar 65,84 persen, artinya sekitar 35 persen pemilih tidak menggunakan hak pilihnya.(ant/rd)

No comments:

Post a Comment